Hukum Taurat?

Jika tidak ingin berzina, cungkil saja kedua matamu. Jika tidak ingin memfitnah, potong saja lidahmu. Jika tidak ingin mencuri, potong saja kedua tanganmu. Lalu apa arti hidup?

Gunakan matamu untuk melihat dan memuji kebesaran Tuhan. Gunakan lidahmu untuk memuliakan dan bermazmur bagi Tuhan. Gunakan tanganmu untuk melakukan kehendakNya.

Bertemu Tuhan di Jalan Buntu – Ron Mehl

Buku ini pernah membantu aku memberikan kekuatan disaat aku benar-benar sedang berada di jalan buntu. Jangan pernah menyerah menghadapi pencobaan, dan yakinlah bahwa Tuhan selalu didekati kita memberikan pertolongan tepat pada waktunya.

Jalan buntu yang saya alami juga melukai! Jalan buntu saya juga terlihat gelap tanpa pengharapan. Dan, sementara kita berbincang mengenai pokok persoalan tersebut, pernahkah Anda berkata seperti ini?

Jika Tuhan mengasihi saya, mengapa Ia mengizinkan jalan-jalan buntu dalam hidup saya? Mengapa Ia membawa saya melewati jalan yang berputar-putar tanpa ujung di mana saya tidak tahu jalan yang harus saya tempuh, tidak tahu di mana saya harus berbelok, dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan?

Setiap orang pasti pernah mengalami jalan buntu. Kebuntuan adalah refleksi dari keterbatasan manusiawi. Tetapi bagi orang percaya; ini adalah WAKTUNYA untuk Tuhan menunjukkan kemuliaan kuasa-Nya yang Maha Besar. Banyak bukti yang mendukung kebenaran ini di dalam Alkitab. Misalnya: Musa tentu tidak akan pernah melihat tangan Tuhan membelah laut Teberau, seandainya ia tidak sedang berada di jalan buntu pada waktu itu. Percayalah! Mujizat-Nya masih berlangsung sampai hari ini.

Bertemu Tuhan di Jalan Buntu, karangan Ron Mehl, terbitan Indo Gracia, melukiskan betapa Tuhan Yang Maha Kuasa sanggup mengubah jalan buntu yang Anda hadapi menjadi jalan bebas hambatan, kalau saja Anda mau bertahan sejenak dalam iman dan pengharapan yang solid.

P E Y O T

Kata peyot, yang juga disebut pe’ot, pe’at, payot, adalah bentuk jamak dari pe’ah.  Kata pe/ah artinya sudut atau samping. Orang Yahudi Yemenite menyebutnya dengan istilah simanim yang secara harfiah artinya tanda-tanda (sign), karena rambut tepi kepala yang panjang merupakan ciri yang mebedakan mereka dengan masyarakat Yaman muslim. Para pria Yahudi Ortodoks biasanya membiarkan rambut mereka tumbuh panjang, dan banyak yang memelihara jenggot.

Suatu waktu mereka akan pergi ke tukang cukur untuk potong rambut. Tetapi, rambut bagian tepi kepala (peyot) tidak dipotong.  Pemakaian peyot bagi orang Yahudi Ortodoks berdasarkan pada penafsiran perintah Tuhan di dalam Imamat 19: 27, yaitu tentang larangan mencukur tepi rambut kepala. Dikatakan, “Janganlah kamu mencukur tepi rambut kepalamu berkeliling dan janganlah engkau mersakkan tepi janggutmu.”

Para rabi Yahudi menafsirkan kata pe’at di ayat tersebut sebagai rambut di depan telinga yang memanjang sampai ujung tulang pipi, sejajar dengan hidung. Karena itu mereka tidak mau memotongnya, bahkan membiarkannya sampai panjangnya melebihi tulang rahang.

Menurut Maimonides, panggilan untuk Moses ben Maimon, seorang filsuf Yahudi terkemuka abat pertengahan, mencukur rambut tepi kepala adalah kebiasaan kafir. Di Mishnah ditegaskan bahwa peraturan ini hanya berlaku bagi laki-laki.

Rabbi Hifrsch Samson Raphael dalam komentarnya tentang Taurat menegaskan bahwa peyot merupakan bentuk simbolik pemisahan antara bagian depan dan bagian belakang otak. Bagian depat otak berkaitan dengan intelektual, sedangkan bagian belakang otak berkaitan dengan perasaan dan pengaturan gerak tubuh. Dengan demikian, pemakai peyot secara sadar sedang membuat pernyataan bahwa dia mengakui dedua aspek dari pikiran tersebut, dan bermaksud untuk menjaga serta menggunakan bagian-bagian itu sesuai dengan tugas yang mereka terima. Menurut Raphael, rambut jugha merupakan simbul dari kebanggaan, karena merupakan bagian yang terlihat orang lain. ini bisa menimbulkan kesombongan. Untuk itu, larangan memotong peyot mengingatkan seseorang untuk tidak menekankan penampilan, tetapi bergantunga pada kecerdasan dan karakter yang baik.

Apapun penafsiran yang diberikan oleh rabi-rabi Yahudi, yang jelas bahwa orang Yahudi adalah orang yang taat akan hukum. Mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk menerapkan hukum, terutama hukum ilahi atau firman Tuhan. Mereka berusah menerapkan firman Tuhan berdasarkan penafsiran yang mereka buat, yang kadang-kadang terkesan berlebihan. Tetapi, sekalipun demikian, ini seharusnya mejadi teladan bagi orang Kristen. Seharusnya orang Kristen mempunyai keinginan yang kuat untuk menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Benarkah Yesus Tuhan?

Wajar saja masih banyak orang yang bertanya “benarkan Yesus itu Tuhan?” Karena apa mungkin Tuhan itu berwujud, apa lagi beruwujud manusia.

Setiap manusia pada dasarnya membutuhkan perlindungan dan pertolongan pada saat mengalami kelemahan, kesulitan atau sesuatu yang sudah tidak dapat lagi diatasinya sendiri. Oleh karena itu mereka berusah mencari sosok yang melebihi dari dirinya, yaitu sosok kekuatan yang mampu melindungi dan menolongnya pada saat-saat mengalami ketidak berdayaan. Dan itulah yang disebut Yang Maha Kuasa.

Banyak orang berusaha mencari sosok Yang Maha Kuasa itu dengan berbagai cara dan memasukan ke dalam wujud dan pemahaman yang bermacam-macam menurut pengertiannya sendiri maupun pengalaman yang dijumpainya. Ada yang memproyeksikan ke benda-benda, mahluk hidup ataupun sosok yang tidak berwujud yaitu roh dan atau mahluk halus. Dan sosok Yang Maha Kuasa ini mereka sebut sebagai Dewa, Tuhan, atau Allah.

(maaf penulis sedang terganggu, nanti kita sambung lagi…….)

Membangun Bait Allah Dalam Tiga Hari

“Rombaklah Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yohanes 2 : 19)

 

Benarkah? Apa mungkin bisa membangun Bait Allah dalam waktu tiga hari? Orang-orang Yahudi untuk melakukan itu membutuhkan waktu 46 tahun lebih. Lalu knapa Yesus begitu yakin dapat membangunnya dalam tiga hari?

Tahun 971-931 SM Salomo menjadi raja dan memerintah kerajaan Israel. Di tahun 960SM ia membuat sebuah Bait Allalh berukuran 60 hasta (27m) x 20 hasta (9m) dalam dua bagian, yakni ruang dalam berbentuk kubus (9x9m) sebagai tempat Maha Kudus dan ruang luar (18x9m) sebagai tempat Kudus. Lantai dan dinding bangunan itu terbuaat dari batu bertutup papan kayu aras yang dilapisi emas. Di tahun 587 SM Bait Allah itu dihancurkan oleh pasukan Nebukadnezar bersamaan dengan kota Yerusalem dan orang-orangnya dibuang ke Babel.

Tahun 539SM raja Koresy daril Persia menaklukkan Babel dan di thun berikutnya  orang-orang buangan itu diizinkan pulang ke Yerusalem.

Dibawah pimpinan Zerubabel,  tahun 537SM, orang-orang Yahudi membangun kembali Bait Allah kedua di atas reruntuhan Bait Allah yang dibangun Salomo. Tetapi terhenti karena ulah orang-orang Samaria, kemudian tahun 520SM dilanjudkan kembali dan selesai pada tahun 515SM.

Ketika Raja Antiokhus IV Epifanes berkuasa, raja menajiskan tempat suci itu dengan mendirikan mezbh-mezbah kafir dan mengadakan persembahan hewan kurban haram. Tindakan itu menimbulkan pemberontakan dari Matatias, namun baru Yudas Mukabe yang berhasil menyucikan danmentahbiskan kembali Bait Allah itu dalam perayaan Hanukkah (Hari Raya Terang (165SM), dan Bait Allah itu kemudian dipugar dan direnovasi demi motif politik oleh Herodes Agung (20SM-19SM).

Karena hukum dan peraturan Ibrani menyatakan bahwa pembangunan tempat-tempat suci peribadatan merupakan previlegi kaum imam, maka pembangunan kembali Bait Allah itu memakan waktu begitu lama hingga baru selesai pada tahun 60SM.

Bagi umat Israel, Bait Allah adalah bangunan sebagai tempat pertemuan antara manusia dan Allah, dan merupakan suatu tempat kudus diman seseorang merasa dengan mudah berjumpa dengan Allah.

Orang yahudi memandang Bait Allah secara FISIK, yakni Bait Suci di Yerusalem. Tetapi maksud Yesus Bait Allah adalah diri-NYA sendiri. Dengan demikian prombakan dan pembanunan kembali Bait Allah merujuk pada kematian dan Kebangkitan-NYA pada hari ke tiga. Kebangkitan itulah yang akan menjadi tanda bahwa Ia adalah Mesias, yang diurapi Allah.

Yesus memberi arti baru tentang Bait Allah, yakni diri-NYA. Dengan iman kita menemukan Yesus sebagai Bait Allah baru dan sempurna. Bait Allah yang dihancurkan oleh salib dan dibagun kebali dengan kebangkitan.

Yesuslah tanda kehadiran Allah di dunia. Dalam diri Yesus kita dapat melihat dan bertemu dengan Allah. Karena itu penyembahan dan peribadahan kepada Allah pun seharusnya bukan lagi di Bait Allah dalam artian harafiah saja, melainkan dalam diri Yesus.

Perjalanan Penderitaan

Mengapa penderitaan dirayakan? Apakan makna pendritaan itu? Di tengah kehidupan ini, banyak orang menolakj  pendeeritaan, tidak ingin bersama Yesus yang menderit, tapi mau menikmati berkat yang melimpah dari Yesus yang menderita. Perayaan  akan penderitaan Yesus ingin mengingatkan bahwa pada dasrnya manusia harus berjuang dengan pelbagai penderitaan,. Manusia berbeda dengan binatang yang begitu lahir langsung bisa berjalan dan tidak perlu lama belajar untuk bisa makan dan mencari makan sendiri. manusia harus lahir sebagai bayi yang belu bisa apa-apa. kemudian terus menerus dilatih dan berlatyih agar tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa. Dalam latihan-latihan itu manusia harus menderita!! manusia tidak bisa menghindar dari bentuk-bentuk penderitaan dalam latihan ini, entah jatuh dan luka-luka untuk bisa berjalan atau naik sepeda.

Tanpa penderiataan dalam berlatih, manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa, Tanpa latihan dan perjuangan yang diwarnai dengan penderitaan. Manusia justru akan menderita karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Artinya, tidak mungkinlah hidup tanpa penderitaan, justru dengan penderitaan itu yesus sampai pada kebangkitan dan kemuliaan.

Perayaan akan penderitaan Yesus juga ingin menampilkan pentingnya solidaritas dengan orang-orang kecil. Yesus meninggalkan ke Allahan-NYA dan rela menderita sebagai manusia agar ia dapat solider dengan manusia.

Solidaritas dengan manusia itu merupakan sarana penyelamatan umat manusia. Solidaritas dengan orang kecil merupakan bentuk penghormatan pada orang kecil. Orang yang tidak pernah solider dengan orang kecil akan bertindak semena-mena terhadap orang lain. berfoya-foya ditengah kemiskinan orang lain, menyiksa orang lain, sewenang-wenang terhadap karyawan atau bawahan, menyiksa orang lain karena merasa punya kekuatan materi sehingga orang-orang yang tidak mampu ada ditangannya dan dapat dibeli dengan uang.

 

Perjumpaan Yang Mengubahkan

Dalam Alkitab banyak diceritakan peristiwa bahwa kedatangan dan pertemuan dengan Tuhan Yesus mampu merubah kehidupan seseoranbg. Dalam cerita penjala ikan menjadi penjala manusia (Lukas 5: 11) dikatakan “dan sesudah menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Bahkan dalam ayat sebelumnyua diceritakan Simon sampai jatuh tersungkur dihadapan Yesus, kedatangan Yesus membuatnya menyadari dosa dan ketidak layakannya. Dan bersama murid yang lain seketika meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus. Kedatangan dan pertemuannya dengan Tuhan Yesus mampu mengubah para murid dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Ada Perjumpaan Petgrus, yang dipanggil dari pekerjaannya sebagai nelayan, mengikuti Yesus, menyangkal Dia, sampai diubah untuk menggembalakan domba-dombaNYA.

Perjumpaan perempuan Samaria dengan sosok Yesus sungguh telah mengubah hidupnya. Ia tidak tahan untuk tidak bersaksi: “Mari, Lihat! Di sana mungkinkah Dia Kristus itu?” (ay29). Banyak orang Samariapun menjadi percaya kepada Yesus. Bahkan mereka berkata : “Kami percaya bukan lagi karena yang kau katakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juru Selamat Dunia”(ay 42). Nyata sudah pewartaan perempuan Samaria itu telah menghasilkan perjumpaan-perjumpaan lain yang mengubah hidup begitu banyak orang.

Ada perjumpaan Bartimeus, pengemis buta uyang semula mengenal Yesus sebagai oran Nazaret, berterian memanggilNYA sebagai Anak Daud, lalu mohon kesembuhan dengan menyapa Rabi (Guru). Setelah sembuh, diubah mendjadi pengikut Yesus.

Dalam cerita yang lain, kedatangan Tuhan Yesus pada saat perjalanan Saulus ke Damsyik mampu mengubah seorang Saulus menjadi bertobat, dan mengubah Saulus dari seorang penganiaya menjadi pengabar injil yang sangat hebat dan terkenal.

Demikian pula dengan apa yang diceritakan dalam Lukas 19:1-10, yaitu tentang Zakheus si pemungut cukai. Betapa tidak Zakheus seorang yang setiap waktu berurusan dengan uang dan kekayaan, bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai hamba uang, dapat berugah 180 derajat menjadi seorang yang dermawan (ayat 18). Tetapi Zakheus beerdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” dan karena kedatang Tuhabn Yesus ke rumahnya, Zakheus menjadi orang yang diselamatkan. Perjumpaan dengan Yesus secara langsung,, mendorong Zakheus bertobat. Pertobatan Zakheus diwujudkan dengan tindakan memberikan setengah kekayaanya kepada orang miskin. Zakheus juga berjanju untuk mengembalikan apa yang sudan diambilnya dengan empat kali lipat. Apa yang terjadi dalam diri Zakheus adalah bagaimana seharusnya sebuah pertobatan terjadi. Pertobatan sejati itu konkrit, yaitu bukan hanya berisi pengakuan akan dosa-dosa yang telah dilakukan saja, tetapi terlebih bagaimana orang mengubah hidupnya menjadi sama sekali baru.

Apakah Saudar sudah mengalami perjumpaan dengan Yesus secara Pribadi? Apakah saudara mengalami perubahan dalam hidup saudara seltelah berjumpa dengan Yesus Seperti cerita pengalaman Petrus, Saulus, Bartimeus, Zhakeus dll?